Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Februari 2015 0 komentar

Rumah Tua di Hulu Sungai.


sherlyana.student.umm


Rumah di hulu sungai itu  tampak hening, nampak dari jauh seperti rumah hantu tak bertuan, sebagian pemburu ikan tuna di pematang sawah kerap kali menjadikan teras depan dengan atap daun kelapa sebagai tempat berteduh sejenak melepas lelah. 

sudah lama hampir satu tahun lamanya, dan sudah setahun pula angin ribut di semua arah mata angin rumah itu berangsur redup dan tak terdengar kerasak kerusuk meluluh lantakkan bangunan rumah dan tak kalah pula meluluh lantakkan hati penghuni rumah itu, dulu.

Daun pintunya yang sebagiannya sudah terkelupas, menampakkan sedikit sisi putih namun tak lagi terlihat putih dengan coretan gambar boneka barbie dan tulisan nama lengkap dengan gambar wanita dewasa menggenggam tangan lelaki memakai kopiah, muahammad dan sari tulisnya. Namun nama muhammad sedikit memudar kendati di tulis dengan krayon berwarna hitam. 

Rumah sederhana, masih lengkap dengan isinya, tapi tanpa penghuni, sarang laba-laba telah terbentuk, tak kalah megahnya dengan pelaminan pengantin baru dan rumah imajinasi harry poter. Jika saja gubuk itu bisa menangis mungkin tubuhnya yang sudah membungkuk akan tertelan air matanya, tapi selama ini bisu. 

Sesekali nampak wanita-wanita yang kebetulan bertemu saat membuang hajat di sugai dekat rumah berbisik-bisik sambil sesekali memalingkan wajah mereka ke gubuk itu, seolah-olah takut terdengar penghuni rumah, itulah mereka yang teramat sirik, entah apa sebabnya. Hati mereka pantasnya sudah berkalang tanah atau lebih ringannya di bacakan surat yasin.

Tapi ada apa dengan hari itu,wanita-wanita di warung dekat jalan raya itu terlihat bergegas membawa belanjaan mereka sambil berjalan cepat, mendekati sebuah mobil fortuner mewah yang melintas, bukan mereka pangling dengan mobil tersebut, tapi dengan wanita berjilbab di dalamnya,wanita berusia 25 tahun yang anggun dengan balutan gamis ungu tua menenteng tas jinjing hitam keluar.

sembari menebar senyum, menjabat tangan dan memeluk satu persatu wanita-wanita yang kebanyakan paruh baya,seorang tua yang sudah berumur senja mendekatinya sambil menagis menjadi-jadi, nadia, gadis itu tak langsung menepisnya, tapi di peluk dengan tetesan air mata pula, awan membawa angin sejuk kendati panas, air-sungai yang mungkin keruh ada harapan untuk kembali  jernih mulai sejak itu, mata-mata sayu sekaligus simpatik masih tetap melekat pada gadis bertubuh semampai. 

Setelah lama, kapala nadia terlihat melongok ke sana kemari mencari seseorang di antara kerumunan warga yang masih tersihir pesonanya 
.
“ini nak koncinya, maaf ibu jarang masuk ke dalam, ibu juga merasa tidak berhak, hanya ibu mau menyampaikan amanah ratna,untuk memberikan kunci rumahmu jika kamu datang” ibu tua pemberi kunci rumah nadia terlihat ragu-ragu dengan muka di buat seperti bersalah.

“ia bi ratna sudah seminggu yang lalu memberitahuku, teimakasih nek” sembari diambilnya kunci rumahnya dari tangan keriput itu.

Seorang pria seumuran dengannya keluar menuju bagasi mobil untuk mengeluarkan barang-barang nadia, tak banyak, hanya satu koper besar dan satu koper kecil.yang jelas koper kecil itu berisi barang-barang pribadi yang niatnya akan diberikan kepada ibu tercinta. 

Meskipun nadia tau ibunya telah lama meninggal setahun yang lau, tapi apa boleh buat,barng-barang itu sudah terlanjur di belinya jauh sebelum ibunya meninggal, tapi sayang kala itu ibarat yang tepat untuk nasib nadia adalah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. 


sepanjanqik.wordpress

Mata indahnya nanar menelanjangi setiap sudut rumahnya yang lapuk terkena air hujan, tembok-temboknya yang tergores oleh angin, atap-atap nya yang sebagian bergenteng jatuh berantakan di depan teras rumah, tak kuasa air matanya tumpah sudah, lutut kakinya seolah lemas, sesekali giginya gemeretak terdengar saling adu dengan isak, tenggorokannya sangat sakit bagai menelan duri. Lelaki itu lebih tepatnya suami yang di nikahinya beberapa bulan lalu berjalan menyesek berusaha memberi jalan untuk nadia segera bisa keluar dari kerumunan.

“mari kita masuk” bisik lelaki itu pelan

Nadia menelan ludah mengangguk getir. Apapun yang sudah terjadi tidak bisa ia reka ulang, ingin rasanya ia tau bagaimana ibunya meninggal, dimana ayahnya dan adik-adiknya kini berada,di bukanya pintu dan pandangan pertamanya tertuju pada meja belajar sederhana dan kaca rias di sampingnya, penuh debu,matanya liar, mencari sesuatu yang seingatnya sudah tidak ada di tempat. 

Pegangan di pundaknya sudah terlepas dari tadi, dia berlari ke dalam kamarnya, tak ada, dia berlari ke kamar ibunya dan akhirnya ia temukan di pembaringan yang masih rapi, foto bersama keluarga kecilnaya, nadia, intan, maisarah lengkap dengan ibu dan bapaknya sedang berpose nahagia. 
  
Rasa penyasalan mulai timbul kembali, ingatan-ingatan kecil mulai beruntun langsung mencapai puncak klimaksnya tepat di rasa sakit yang kembali juga di rasakan, bahkan lebih sakit, dia jatuh ke pembaringan sambil memanggil nama ibu, ibuu, ibuu.

Seraut wajah maisarah yang rambutnya di kepang dua datang,seolah-olah mengelus pipi putihnya yang basah, selanjutnya bayangan nadia memamerkan piagam penghargaan melukisnya sembari berlari lari kecil di teras depan rumah mereka,mencontohkan ibu gurunya yang salah memanggil namanya yang kepanjangan.

Tapi nadia spontan menutup wajah dan meringkukkan tubuhnya yang masih memeluk foto keluarga tersayang. ketika mengingat sosok lelaki yang di panggil muhammad, wajahnya dingin, lebih dingin dari es, matanya tidak di penuhi birahi, tapi menyakitkan bila di pandang, langkahnya menandakan langkah keangkuhan.

otot-ototnya kekar dengan tubuh yang atletis, tapi bila mengaji suaranya yang mendayu-dayu, mengundang pujian banyak orang, seorang yang giat bekerja memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, tapi dia ibarat kumbang perkasa yang sedikit madunya,di pandangan orang lain ia adalah orang yang baik hatinya dan di segani masyarakat desa, apalagi dengan anak-anaknya yang terkenal baik-baik dan bersopan santun.

Sekali lagi semuanya tidak bisa di ulang kembali, andai kepergian nadia kali itu tidak dengan  mata penuh kebencian menusuk tajam lurus ke mata ayahnya. Ingatannya memutar balik memori yang menyakitkan.

Bulan-bulan yang penuh penderitaan, kala itu jangankan emas perak yang habis di jual oleh sari ibu beranak tiga sampai kompor usang pun ikut di jual di pasar loak, nadia tak sampai hati melihat perekonomian keluarganya yang carut marut, tak bisa ia tahan adik-adiknya tidak mendapatkan jatah makan siang, cukup dengan sarapan pagi untuk tenaga beraktivitas hari itu, dan makan malam untuk bisa merasakan tidur lelap tanpa harus merasakan amukan perut yang menimbulkan cegukan hangat di mulut perih menahan  lapar.

sari tak lagi memikirkan biaya sekolah anak-anaknya, yang ia fikirkan hanya bagaimana menambal perut yang keroncongan minta diisi, ia tak lagi memikirkan perasaan yang tercabik-cabik dengan ulah suaminya yang kelayapan menghambur-hamburkan uang tiap malam, matanya sembab selalu terlihat setiap kokok ayam terdengar, di kompres dengan air hangat  agar tak malu dilihat tetangga.  

Semangatnya mulai berkobar , otaknya berputar memikirkan pekerjaan apa yang bisa ia lakukan untuk menghasilkan uang, tak mudah untuk sari menahan rasa sakit sekaligus berfikir berat dengan tanggungan ketiga anaknya yang belum bisa di bebankan untuk mencari nafakah, suaminya sudah tak lagi peduli, harapan dan cita-citanya yang tinggi menyekolahkan anak sulung mereka ke sekolah bagus dan mendapat gelar setinggi-tinginya kini sudah hampir pupus.

Pikiran nadia kalang kabut, tak tau harus berpihak kemana, ibu dan bapaknya ia anggap sama saja, lebih mengedepankan ego mereka ketimbang memikirkan ia dan adik-adiknya, jika sari ibunya masih punya harapan, tapi tidak untuk nadia yang sudah hampir putus asa menunggu harapan ibunya terkabul. 

devimurti.wordpress


Bimbang dalam mengambil keputusan yang tepat kala itu,apakah harus terus bertahan dengan semangat ibunya yang menggebu-gebu demi mampu menyekolahkannya lagi, atau dia harus pergi dari rumah itu dengan niat berkorban demi kenyamanan hidup keluarganya. 

Pikirannya kalut. Yang dia harapkan ibunya mendukung apapun keputusannya, namun ibunya bersikeras untuk mempertahankan yang menjadi keyakinannya bahwa tuhan itu maha kaya. Berbeda dengan nadia tuhan itu maha kaya dan akan membantu keluarga mereka jika ayahnya mengerti keadaan hati nadia.

Sekarang di gubuk kecil itu ia sendiri, mencoba menyesali keegoisan mencari uang banyak untuk mengakhiri penderitaan di balas dengan nasib lebih getir lagi, rasanya tuhan tidak adil baginya, seandainya dia sedikit saja bersabar dan sanggup bersakit-sakitan dahulu sebelum sukses kelak. 

seandainya dia mengikuti pesan ibu untuk tetap bersekolah walaupun ia harus tebal hati dengan keuangan mereka. Tapi itu masa lalu, ia memutuskan mencari uang, pikirnya dengan uang ia sanggup untuk berbahagia bersama keluarganya. Ujung-ujungnya ia hanya mampu melihat kehancuran nasib orang-orang tercinta.
Minggu, 08 Februari 2015 1 komentar

Bunga Pantai Berduri



Aliran air laut dangkal mengitari bebatuan yang timbul akibat air laut surut membentuk sungai panjang, terlihat segelintir anak balita bermain air, memercikkan air ke sana kemari dengan riangnya, tak luput dari perhatian si ibu. 

Orang-orang ramai mencari keke atau kerang laut yang kerap menjadi incaran setiap tanggal 15 bulan atas menurut perhitungan orang sasak, itu menjadi pertanda tetap untuk pesta pantai sekaligus liburan kecil-kecilan untuk keluarga. Biasanya waktunya dari siang sampai sore hampir malam. Fenomena kecil tapi sangat membahagiakan hati.
ismiamelia

Sore itu ibarat aku bernostalgia dengan kenangan waktu kecil dengan kakak misanku, saat gila untuk bermain dulu, tak peduli matahari membakar kulit coklat kami, tak peduli dengan ibu kami yang hawatir dengan hutan yang menjadi jalan pintas untuk menemukan pantai tempat bermain, yang kami perdulikan hanya bunga pantai berduri menari-nari di depan mata untuk segera kami kejar bertarung bersama angin.

Ku lihat mata kakak ku berkaca-kaca melihat jembatan-jembatan baru di bangun dan bebearapa dermaga kecil yang di jadikan tempat parkir bagi para pemancing. Entah dari mana saja asal mereka, rupa-rupa asing bukan dari warga desa kami, rata-rata mereka juga bermobil. 

Sejauh mata memandang bunga pantai berduri itu sudah tak ada, semak-semaknya sudah di pangkas semua, bahkan danau tempat kami biasa membersihkan diri usai lelah berenang di pantai kini sangat kotor dan jorok,  airnya terlihat jelas tak pernah di gunakan untuk mandi, melainkan bekas-bekas limbah terlihat begitu nyata.
andikaawan

Dulu mimpi kami sangat sederhana, memiliki sepeda motor dan baju bagus agar kami tak lagi melewati hutan untuk bermain kejar-kejaran bersama teman-teman, “mimpi kita sekarang sudah menjadi nyata dek,kau sudah menjadi wanita cantik dan berpendidikan, kita kemari dengan motor dan pakaian bagus” ujar kakak ku sembari menyingkirkan batu-batu kecil mencari keke.

Aku bahagia seketika, nafasku longgar dan ku kencangkan kembali, mencoba menikmati dan menyelami keindahan masa kecil ku dulu, sesekali ku coba mencari tempat pas untuk berpose bersama kakak selagi aliran sungai dangkal itu masih ada. Beberapa jepretan sudah sangat membuatku bahagia.

Bagaimana tidak ku nikmati, sudah sangat lama rasanya tidak bersua dengan alam indah yang di depanku kini, hampir enam tahun lamanya, dan pertemuan ku dengan kakak ku tercinta sudah sangat lama ku idamkan, dia seorang wanita pekerja keras dengan cita-cita yang amat tinggi, berparas cantik dan amat periang.

Masih ku ingat jelas ikrar kami dulu usai shalat ashar di mushalla kecil dekat sungai, dia menungguiku di atas batu selagi aku masih berak di balik batu yang di aliri sungai nan jernih airnya, saking rumah kami sangat sederhana dan tidak memiliki toilet husus untuk buang air besar.

Dia berkata,” kamu pasti di kirim bibi sekolah di pesantren sementara aku akan sekolah di SMP dekat rumah, kita akan berpisah dan akan jarang bertemu, bagaimana kalau sebelum berpisah gaji kita membungkus kerupuk minggu ini kita gunakan untuk membeli poster dan kita saling tukar sebagai kenang-kenangan” 

Aku sangat setuju dengan idenya, kami sangat senang membeli poster artis grup bend dulu lalu kami akan tempel di dinding kamar kami masing-masing, yang lebih anehnya di ingatanku kami bertukar tanda tangan di  poster yang kami beli, seakan tanda tangan itu tanda tangan artis di poster. 

Kami memang di didik hidup mandiri, setelah pulang sekolah dulu aku dan kakak ku bekerja sebagai pembungkus kerupuk, tapi namanya anak kecil masih SD, gaji kami yang di berikan satu kali seminggu akan habis di gunakan untuk pesta pantai setiap hari minggu pagi, lebih-lebih pasar labuhan haji hanya di buka pada hari minggu.

Barang-barang yang kami beli sesuai dengan upah kami, hanya cukup membeli poster dan urap-urap, lalu kami akan pulang lewat hutan dan sungai besar, tentunya urap-urap itu tak langsing kami bawa ke rumah, kami santap dulu di batu besar pinggir sungai, kebon datu namanya. Hatiku terenyuh jika ku ingat, air mataku rasanya akan tumpah.

Delapan tahun lamanya aku meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu, selama itu telah banyak yang berubah, meskipun aku pulang untuk libur panjang sangat jarang aku bisa bertemu dengannya. Kakak ku sudah banyak menemukan sahabat baru, dan tidak lagi curhat padaku, lebih lebih setelah aku menamatkan sekolah aliyah dan meneruskan kuliyah di mataram.

Sedangkan dia memutuskan berhenti hanya sampai tamat SMA, dan bekerja sebagai pelayan toko,dia yang ku temui sekarang amat berbeda, matanya  sayu dan tubuhnya sangat kurus, terlihat kantung matanya hitam membesar., sangat kontras bebannya terlalu berat.

Cita-cita kami yang belum ku sebutkan adalah menjadi guru di SMA 1 selong dan menjadi orang terkaya di desa, sempat juga kami bercita-cita menabung hasil bungkus kerupuk kami dan membeli sepeda motor setelah bertahun-tahun. Uhh sangat ngeri jika ku ingat.
andikaawan

Lama-kelamaan ku lihat dia terduduk lesu di atas batu karang agak besar dia masih menjadi kakak sekaligus sahabat ku yang penuh semangat perjuangan, tak sama sepertiku yang kegirangan melihat pantai labuhan haji, espresinya lebih kepada biasa-biasa saja, [pikirku mungkin karna dia sudah bosan ke tempat ini.

“kapan aku bisa kuliyah”, ujarnya lirih ketika duduk di batu karang yang sama sambil menatap matahari tenggelam, 

“ sabar, masa depan masih panjang, tak kan terhenti sampai pada menjadi pelayan toko, kau masih muda ka’, tidak ada kata terlambat” timbalku mencoba membesarkan hatinya.

Hatiku tertusuk amat dalam, kenangan-kenangan kami seakan muncul beruntutan, meskipun usia telah menelannya, meskipun orang tua kami sudah melupakan omelan-omelannya gara-gara kami telat pulang habis bermain di pantai indah ini. 

Masih sempat juga ku berharap ada satu rumpun saja bunga pantai berduri untuk ku persembahkan padanya. Untuk menghapus sedihnya dan berlari melawan arus angin pantai yang keras. Sekeras masa yang telah lewat merenggut mimpi mimpinya.


Sabtu, 20 Desember 2014 1 komentar

Kerudung Hitam Fatma



ariexmadura.wordpress


Malam itu hujan mengguyur rumah beratap bocor di ujung jalan besar, suara tangis anak kecil pecah,sayup-sayup terdengar bersaing dengan suara deras air dari langit yang menambah kalut suasana di dalam rumah sempit itu, manusia seakan tak mem[perdulikan keadaan, entah karna cuaca yang tak mengizinkan atau mungkin hal itu di anggap tak penting  dan  sudah terbiasa, alampun tak bersahabat daun-daun pohon beringin diujung gang  tak sedikitpun berjatuhan, walau diterpa hujan ganas, enggan menunjukkan rasa kasihan pada tetangganya.

Sebuah pohon yang sudah tak terhitung kalinya mengeluarkan kegaduhan, terkadang suara tangis,teriakan,piring pecah bahkan suara tamparan terdengar jelas walau jarak beberapa meter dari daun pintu rumah mereka . akhirnya suara tangisan itu mengalah tak sanggup bertarung dengan suara hujan.

Satu dua kali hanya ada suara gesekan sapu lidi pertanda percekcokan di rumah tangga itu baru selesai, kini giliran Fatma yang harus membereskan sisa-sisa serpihan piring ulah pertengkaran kakak dan ibunya , dan suara tangisan itu berasal dari adiknya terkasih Amira yang masih belia namun sudah menyaksikan kekejaman takdir hidup manusia

Seakan telah terbiasa dengan keadaan tersebut tak satu bulirpun air jatuh dari kelopak matanya yang anggun, dialah Fatma gadis jelita, cerdas dan tegar hanya saja tak beruntung dengan nasib keluarganya.


Hujan telah reda begitupun kisah yang ditinggalkan pada pohon beringin lengang,sayup-sayup suara azan isya’ memanggil Fatma dengan kerudung hitamnya menerobos malam yang menyisakan gerimis kecil digandengnya Amira, anak mungil itu terlihat sudah tak mengingat lagi kejadian tadi. Disusurinya gang-gang  kecil menuju masjid yang terletak ditengah-tengah desa mereka. 

Diperjalanan Fatma berpapasan dengan Amir, wajahnya tertunduk pura-pura tak melihat laki-laki yang menjadi kekasihnya memperhatikan dari kejauhan sebeum akhirnya berpapasan. Ketika sudah dekat disambarnya tangan Amira.

Mata sembab Amira langsung berbinar melihat Amir, di manapun Amira bertemu dengan Amir selalu dia merasa gembira, dianggapnya Amir adalah pengganti ayah yang telah lama meninggalkan mereka bertiga dia, Fatma dan Rasyid kakak paling tua., si pemabok gila yang selalu melawan.


Melihat mata Amira yang sembab Amir sudah bisa menerka apa yang sudah terjadi, dia tidak berkata apa-apa digendongnya Amira dan mensejajarkan langkahnya dengan Fatma untuk memenuhi undangan dari sang pencipta. Hubungan amir dan fatma sudah terjalin lama hampir semua seluk beluk hidup fatma diketahui, hanya amir yang selam ini menghapus air mata fatma, menjadi obat dari segala keluh kesah kekasihnya.


Sehabis solat isya sengaja berdiri didepan pintu masjid berniat untuk mengobati kegundahan hati fatma.masih lengka[p dengan mukenah birunya  fatma keluar dari area masjid,senyumnya disembunyikan dibalik tubuh amira yang disapihnya.


“ amira ingin jalan-jalan sama kakak?” amir menawarkan ketika sudah dekat dengan fatma

“ jadi amira yang mau diajak bukan aku! Gak adil sekali” ujar fatma masih dengan senyum yang menggetarkan hati amir, dengan centil yang menggelitik amir tersenyum merekah membalikkan tubuh, fatma mengikuti dari belakang 


Ada satu hal yang ingin dikatakan amir, namun masih berfikir dan menimbang apakah akan dikatakan sekarang atau tesok mengingat fatma sedang dirundung duka, mereka terus berjalan terdiam berbicara dengan hati mereka masing-masing.fatma yang selalu tenang didekat amir seolah-olah masalah yang menumpuk digadaikan dulu untuk sementara waktu.  Namun ikatan batin fatma dan amir terpahat sudah begitu kuat tidak ada yang bisa disembunyikan 


“ apa yang sedang kamu fikirkan sehingga membuatmu gelisah seperti itu” suara lembut fatma memecah keheningan malam


Sentak amir terbangun dari lamunan tidak mau terliahat salting diambilnya amira yang sudah tertidur pulas

“ ada yang ingin kusampaikan kepadamu” wajah amir terlihat tenang namun begitu bersahaja di tambah dengan baju koko hitam dengan abu-abu didepannya menambah ketampanannya malam itu. Fatma terdiam menunggu kalimat berikutnya dari amir 


“ aku mungkin akan jadi berangkat lusa bapak jadi mengirimku ke pondok pesantren dijawa,itu yang beliau cita-citakan setelah aku lulus aliyah, aku sudah mengatakannya sebelum ini ku harap ini tidak membuatmu kaget” langkah amir terhenti, dipandanginya wajah gadis yang teramat dicintainya, fatma meneteskan air mata runtuh sudah dinding pertahanan hatinya yang sebelumnya retak. 

tak ada ucapan kakinya terus melangkah berbelok belok menuju gang rumahnya amir masih berjalan disampingnya tiba di depan pintu diambilnya amira dari dekapan amir, tak terasa air mata amir mengalir, berat rasanya ia untuk berbalik. Mereka kini berhadapan.

 “ kau pulanglah istirahat,” bergetarlah suara fatma,a mir hanya diam terpaku menatap lekat-lekat wajah fatma yang bercucuran air mata

“ aku tidak akan jauh darimu, kita pasti akan bertemu lagi” hanya kata itu lalu amir pergi sebelum semuanya berubah.


Setahun setelah keberangkatan amir tak ada lagi yang menjadi penghiburnya, fatma banyak menerima kabar dari teman-temannya yang juga melanjutkan kuliyah ke luar daerah, hanya fatma seoran yang masih bekutat dengan takdir hidupnya yang buruk. Penyakit ibunya kian menjadi, tumor payudara yang sulit disembuhkan serta kelakuan kakaknya yang semakin menjadi-jadi,fatma menjadi buruh cuci untuk istri-istri PNS di desanya hingga suatu hari dia mendapat surat dari  risa sahabatnya dibali.


“ fatma kesinilah, nasibmu akan begitu-git terus jika  didesa, disini ada pekerjaan yang lebih baik dari pada hanya mencuci pakaian, lebih baik menjadi pelayan toko gajinya lebih besar dari hanya sekedar buruh cuci,

Dia tak begitu tergiur sama sekali dia masih memikirkan amira, siapa yang akan menjaganya jika ia pergi.


Malam itu tak hujan namun suara tangis dirumah itu pecah lagi , kini terdengar jelas tanpa hujan. Dan kejadian itu lebih kejam dari biasanya, fatma diseret keluar rumah oleh rasyid, manusia kejam itu seolah sudah tak bisa dikendalikan.


“ pergi kau, jangan pernah ada dirumah ini , jika kamu masih bersikap perhitungan padaku, dasar adik tidak tau di untung “  bentakan rasyid menggelegar bersahutan dengan tangis amira yang semakin menjadi-jadi. Ibu mereka hanya terkulai lemas suara batuknya teramat berat di telinga. Bibir fatma berdarah, kerudung hitamnya  berbentuh sudah tak karuan, sesekali  diseret langkahnya untuk menghindari tendangan kaki jahannam kakaknya , salah satu tetangga fatma merasa iba dan mengangkat tubuh penuh luka itu, dibawa kerumahnya.


Nasib mungkin sudah tak bisa berdama dengannya ingin rasanya fatma berlari jauh dari rumah, menghindari raut wajah kakaknya yang beringas dan menyaksikan tubuh lemah ibunya,namun yang membuat langkahnya berat hanya amira, amira ,dan amira, dan tentu saja ibunya, puas membolak-balik pikiran, ia tertidur pulas dengan hati yang tercabik-cabik, sapu tangan yang diberikan amir pada hari terakhir mereka bertemu selalu setia menghapus air matanya, tak terkecuali malam itu.


Pagi-pagi buta fatma menemui ibunya usai solat subuh, diutarakan niatnya yang sudah bulat untuk menyusul risa ke bali demi mengadu nasib yang lebih baik, sekaligus meminta restu ibu yang selalu dikasihinya. Sayang orang tua itu harus sedikit lebih bersabar dan mengurus amira kecil seorang diri tanpa fatma. 


Hati fatma sakit, iri dengan teman-temannya yang ke luar daerah untuk bersekolah,namun dia keluar daerah untuk bekerja. Langkah fatma diiringi derai tangis ibunya. Namun nasib baik terus menjauh dari kehidupan fatma, dia tidak bertemu risa sahabatnya, namun bertemu dengan germo yang awalnya baik memberi arahan tentang kehidupan dibali,namun lama-kelamaan tubuhnya yang dijual, runtuh sudah kehidupan fatma.


Tidak terima dengan nasib yang menerimanya suatu malam dihempaskannya jilbab hitam yang selalu menambah pesona ayu wajah ayunya, sapu tangan amir dirobek,tak percaya lagi dengan cinta,nasib baik, dia terus melangkah dijalan yang disediakan dihadapannya, menikmati hidup yang bertentangan dengan hati nuraninya..

Fatma tak pernah pulang sudah berapa kali ia dibujuk oleh risa yang sudah tau pekerjaannya, namun hati fatma seolah membatu. Tak tahan melihat keadaan itu risa pulang membawa berita untuk ibunda fatma, tak disangka kabar buruk itu membuat kondisi ibu fatma memburuk. Berkali-kali ia hubungi fatma lewat hp risa, namun ia tidak ingin pulang


Beberapa bulan kemudian, dihalaman rumah yang sudah tak terurus lagi, amira yang sedang bermain dengan sendok, berteriak girang.” Ka’ amiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrr.....!!” 


Pemuda dengan peci hitam bundar mengenakan kaos putih seperempat celana hitam membawa bingkisan  diniatkan untuk fatma dan amira. Amira berlari ke arah amir, tubuhnya lansung melayang terangkat kedua tangan pemuda soleh itu, diciumnya pipi amira,setelah puas melepas rindu dengan amira, ia masuk ke dalam rumah, mengelilingi sudut rumah mungil itu dengan mata bundarnya, terlihat kumuh dan berantakan tak terurus. 


Kemana fatma mira? ‘ belum sempat di jawab amira, terdengar suara berat batuk ibu dari dalam kamar.dia tidak punya tenaga untuk menemui amir diruang tamu.


“ Amir, kaukah itu....? kemarilah “ disamping ranjang dengan tertegun dan dadanya sesak, ibu fatma menceritakan semua yang telah terjadi setelah kepergian amir.  Tak kuasa meneahan tangis,ia berlari keluar sekencang-kencangnya tak percaya dengan cerita bu fatma, ingin dia menemui kekasihnya memastikan kata-kata yang membuat hancur hatinya. 

Empat hari amir tak keluar kamar libur kuliyah yang rencananya akan dihabiskan bersama fatma, sudah membubung kelangit hilang ditelan udara. Hari keenam amir memutuskan untuk ke bali mencari fatma, ia merindukan gadis solehah itu, merindukan mata anggun dan senyum dibibir tipisnya


Risa tidak mengantar amir bertemu fatma. Dia hanya memberi alamat fatma, darah amir berdesir, ketika melihat lokasi rumah kontrakan fatma dekat dengan tempat-tempat hiburan, kafe,hotel, didekatinya rumah kontrakan fatma yang lengang, sepi seperti tak berpenghuni, jam menunjukkan pukul 09.17 malam, diketuknya pintu kamar kontraka fatma,mengucap salam namun tak ada jawaban. Lama menunggu ia menanyakan fatma pada teman yang kelihatan baru pulang dari suatu tempat


“ ohhhh mbak fatma, jam segini lagi kerja tuh,depen dagang bakso,” tak disangka yang ditnjuk wanita itu sebuah kafe yang bernama casanova. Amir membuka kopiahnya dan tanpa ragu melangkah ke kafe dan bolak-alik mencari  fatma,tapi tak juga menemukan sosok gadis yang dicarinya, lelah dengan perasaannya campur aduk, dia duduk istirahat di salah satu bangku tamu, seorang wanita membawa daftar menu ke hadapannya, tubuh wanita itu sintal.

lekak-lekuk tubuhnya terlihat begitu kentara rambutnya terurai panjang sampai pinggang dihiasi pemanis berupa pita blink-blinh yang menambah cantik penampilannya. Amr tak menghiraukan wanita itu, ia hanya melihat sekilas, ia memesan air putih saja. Lain dengan wanita yang tadi lain juga wanita yang membawa pesanan amir, gadis itu sedikit lebih seksi dari wanita tadi matanya menghadap ke gelas minuman, rambutnya didikat rapi ke atas. Fatma dialah gadis pembawa minuman amir....


Setelah sampai didepan kursi amir baru mata fatma menghadap ke wajah pelanggan, remang cahaya lampu kafe menyamarkan wajah fatma. jantung amir seakan berhenti berdetak, pedih terasa ditenggorokan, bulu-bulu tubuhnya berdiri,beriring dengan air matanya yang tumpah tak tertahan

“pulanglah fatma, aku ingin menikahimu”


Hanya itu yang mampu dia ucapkan di depan wanita yang sangat dia cintai, tak pandang wanita yang kini didepannya terlihat tak seperti dulu. Niat amir tulus mengembalikan fatma yang dulu dengan kerudung hitamnya do’a amir “sempurnakan imanku dengan menikahi wanita ini, besarkan hatiku menerima kekurangannya maupun kelebihannya dan jadikan dia istri yang terbaik untukku, menjadi bidadari bumi yang sempurna”.

 
;